Tampilkan postingan dengan label halal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label halal. Tampilkan semua postingan

13 syarat bagi MLM yang diperbolehkan (HALAL) Systemnya


 Belakangan ini bisnis multi-level marketing (MLM) ramai diperbincangkan. Sidang Komisi Bahtsul Masail Waqiyyah di Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU) merekomendasikan bisnis MLM haram.

Ada 5 alasan yang membuat NU mengeluarkan usulan tersebut. Usulan itu dikeluarkan pada 27 Februari 2019 yang lalu.

Sebelum NU mengeluarkan sejatinya Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) juga sudah mengeluarkan fatwa terkait MLM yang disebut sebagai pedoman Penjualan Langsung Berjenjang Syariah (PLBS).

"Jadi MLM haram kalau ada 5 hal, itu NU. Kalau kita MLM itu halal kalau memenuhi 13 syarat," kata Anggota DSN MUI Moch Bukhori Muslim dalam acara Dialog Interaktif MLM Itu Halal atau Haram di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Selasa (12/3/2019).

Bukhori menegaskan bahwa sejatinya tidak ada yang berbeda fatwa DSN-MUI dengan hasil rekomendasi MUI. Bedanya hanya perbedaan pandangan perspektif.

Berikut 13 syarat bagi MLM yang diperbolehkan (halal) sesuai dengan fatwa No: 75/DSN MUI/VII/2009 yang disahkan pada 25 Juli 2009:

1) Ada obyek transaksi ril yang diperjualbelikan terdiri dari barang atau produk jasa.

2) Barang atau produk jasa yang menawarkan barang yang bukan diharamkan dan bukan digunakan untuk sesuatu yang haram.

3) Transaksi dalam perdagangan tidak mengandung unsur gharar, maysir, riba, dharar, dzulm, maksiat.

4) Tidak ada kenaikan harga/biaya yang berlebihan (mark-up yang berlebihan)

5) Komisi yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota, besaran maupun bentuknya harus berdasarkan prestasi kerja yang terkait langsung dengan volume atau nilai hasil penjualan produk, dan harus menjaga pendapatan utama mitra usaha.

6) Bonus yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota harus jelas jumlahnya, saat transaksi (akad) sesuai dengan target penjualan barang dan atau produk yang ditetapkan perusahaan.

7) Tidak boleh ada komisi atau bonus secara pasif yang peroleh secara reguler tanpa melakukan pembinaan dan atau penjualan barang atau jasa.

8) Pemberian komisi atau bonus oleh perusahaan oleh anggota (mitra usaha) tidak menimbulkan ighra.

9) Tidak ada eksploitasi dan ketidakadilan dalam pembagian bonus antar anggota pertama dan anggota berikutnya.

10) Sistem perekrutan, bentuk penghargaan dana secara seremonial yang dilakukan tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan aqidah, syariah dan akhlak mulia, seperti syirik, kultus, maksiat dan sebagainya.

11) Setiap mitra usaha yang melakukan perekrutan keanggotaan wajib membina dan mengawasi anggota yang direkrutnya.

12) Tidak melakukan kegiatan money game.

money game menurut fatwa DSN MUI No. 75/DSN MUI/VII/2009 adalah kegiatan penghimpunan dana masyarakat atau penggandaan uang dengan praktik memberikan komisi dan bonus dari hasil perekrutan/pendaftaran mitra usaha yang baru/bergabung kemudian, dan bukan dari hasil penjualan produk, atau dari hasil penjualan produk namun produk yang dijual tersebut hanya kamuflase atau tidak mempunyai mutu/kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan.

13) Dalam penerapan Maqashid Syariah untuk melihat halal atau tidak, maka harus dilihat sejauh mana praktiknya setelah dikaji sesuai dengan ajaran agama syariat Islam. Jadi tidak serta merta dilihat dari merk dan labelnya apakah berlabel syariah atau tidak, tetapi penting mengedepankan beberapa persyaratan yang sesuai dengan syariat islam agar tercapainya sebuah Mashlahat.

Nah itulah 13 Ciri MLM Terbaik, Terpercaya dan Halal Menurut Fatwa MUI yang mudah-mudahan bermanfaat bagi anda yang ingin atau sedang bergabung dengan bisnsis MLM. 

Dengan mengetahui fatwa MUI tentang MLM syariah ini maka anda bisa lebih cermat dalam memilih sebuah bisnis MLM. Setelah yakin, baru silakan bergabung dengan MLM yang memiliki 13 ciri MLM syariah tersebut. sumber : https:// borobudurnews. com/ini-daftar-mlm-yang-di-halalkan-mui/

Anda juga tertarik melihat 9 MLM yang halal ,di SINI

105 Anggota di APLI di SINI

Segera gabung bersama kami System jelas halal dan produk herbal halalthoyyib,silakan klik di SINI

atau di SINI atau anda bisa hub kami di whatsapp

Share:

Mana yang Halal dan Mana yang Thayib?


Saat ini edukasi tentang makanan halal makin gencar diadakan. Media sosial pun tidak ketinggalan. Ada satu situs Harus Halal yang saat ini mempunyai 20 ribu anggota, aktif membahas kehalalan produk di tanah air. 

Beberapa narasumber lepas di media ini berlatarbelakang sebagai anggota dan auditor Lembaga Pengajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM), Majlis Ulama Indonesia. 


Konten dari LPPOM memang sangat diperlukan mengingat dari LPPOM itu sendiri adalah mengkaji dan melayani makanan, minuman dan obat-obatan – obatan termasuk kosmetika yang masuk di Indonesia, apakah telah memenuhi syarat halal atau tidak. 


Seperti yang telah dibahas di kolom Sakinah Finance pekan lalu, yaitu Makanan dan Keuangan Keluarga , pesan khusus di ujung artikel itu, ternyata halal saja tidak cukup, thayib juga perlu diperhatikan. 

Kita lihat apa itu thayib (baik) hari ini. Definisi halal dan thayib Dalam Surah Al-Baqarah (2): 168 dan Al-Maidah (5): 88 skema dua kata 'halal' dan 'thayib'. Di surah Al-Baqarah, makna ayat adalah lebih disukai bagi manusia untuk memakan apa – apa saja di muka bumi ini sepanjang halal dan thayib. Sedangkan di surah Al-Maidah, ayat tersebut melarang manusia yang beriman untuk tidak membatasi dirinya dengan kehidupan di dunia. 


Manusia tetap dianjurkan untuk menikmati kehidupan layak yang dicontohkan Rasulullah SAW (menjadi sunah) salah satunya adalah makan apa saja sepanjang halal dan thayib. Ayat-ayat yang berkenaan dengan halal yaitu thayib tersebut ditafsirkan sebagai sehat, bergizi, yang bermanfaat untuk fisik dan akal manusia (Tafsir Ibnu Katsir). 


Contoh halal dan thayib 

Dari segi makanan, makanan halal adalah semuanya kecuali yang dinyatakan dinyatakan di Al-Qur'an dan hadits. Contohnya adalah bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah (QS Al-Baqarah (2): 173; QS Al-Maidah (5): 3). Minuman keras (alkhomru) secara tegas juga dilarang (QS Al-Maidah (5): 90), dan segala makanan yang buruk (QS Al-Araf (7): 157) termasuk al-khabaaits atau sesuatu yang menjijikan, berbahaya dan haram. Begitu juga hewan yang berkuku tajam dan bertaring (HR Muslim No. 1933), serta pemakan kotoran (jalallah) (HR Abu Daud No. 3785; Tirmidzi No.1823; dan Ibnu Majah: 3189). Selanjutnya hidup dari rezeki yang thayib; di QS Al-Baqarah (2): 172 menjadi anjuran bagi orang yang beriman. 


Sedangkan contoh makanan yang thayib atau bernutrisi tinggi dan memberikan dampak kesehatan banyak penduduk di dalam Al-Qur'an seperti hewan ternak beserta susunya, ikan segar, jagung, zaitun, kurma, anggur, madu, dan tumbuh-tumbuhan lainnya, termasuk jintan hitam yang berada dalam sebuah hadits. Walaupun umat Islam diperintahkan untuk memakan rezeki yang halal dan thayib, tetap saja harus seimbang (hadits tentang cara makan Rasulullah SAW) dan tidak boleh berlebihan seperti yang tertera di dalam QS Taha (20): 81 yang artinya: “Makanlah dari rezeki yang baik - baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampau batas… 


” Panduan makanan thayib Semakin canggih teknologi, banyak makanan instan yang diproduksi seperti ayam broiler dan telurnya, susu kaleng, beras non-organik, ikan yang diawetkan, dan sayur-sayuran yang berpestisida tinggi, beras non-organik, buah-buahan yang dililin, makanan ber-MSG dan makanan instan lainnya.  Jauh beda dengan ayam kampung, ikan segar, susu segar, beras organik dan sayur - sayuran organik. 


Seorang penulis, Michael Pollan dalam bukunya Food Rules menyatakan bahwa ada 10 petunjuk yang memilih makanan sehat: 

1. Jangan makan apapun yang nenek moyang kita tidak mengakuinya sebagai makanan. 

2. Makan tumbuh – tumbuhan terutama daun – daunan. 

3. Makan makanan yang kelak akan basi. 

4. Keluar dari supermarket Cipta mungkin untuk menghindari makanan instan. 

5. Bukan makanan jika dia datangnya lewat jendela mobil. 

6. Bukan makanan jika disebut dengan nama yang sama di semua bahasa. 

7. Makanlah hewan yang memakan makanan yang baik. 

8. Makan junk-food asal buatan sendiri. 

9. Jangan sarapan pagi dengan sereal yang dapat mengubah warna susu. 

10. Jangan remehkan ikan kecil yang berprotein tinggi.  


Petunjuk dari Michael Pollan di atas sudah cukup baik yang dapat menambah pemahaman kita terhadap makanan yang halal dan thayib menurut Al-Qur'an dan Hadits. 


Murah atau mahal 


Dari panduan di atas tentu saja para keluarga sangat peka dengan harga karena soal anggaran keuangan keluarga. 

Sebenarnya tidak semua yang baik dan sehat itu mahal, misalnya memakan buah-buahan lokal seperti papaya, nenas, rambutan, mangga lebih baik dan murah dari apel yang dililin atau mangga dalam kemasan kaleng. 


Namun tidak dipungkiri, sebagian besar makanan organik dipasang dengan harga tinggi karena waktu produksinya lebih lama dan memakai energi manusia lebih banyak. Sebagai panduan keluarga, usahakan sebisanya untuk mengkonsumsi makanan halal dan thayib dengan menggunakan anggaran yang ada. 


Jika tidak mampu, jangan udah berhutang hanya ingin memastikan makanan yang dikonsumsi harus organik misalnya. Jangan lupa niat dan doa, karena hanya Allah SWT jualah yang akan memastikan konsumsi keluarga kita senantiasa halal dan thayib. Wallahu a'lam bis-shawaab.

Share:

Follow Facebook

Bisnis Syariah & Sedekah

Featured post

Indobio itu tidak memberatkan kinerja Organ

Indobio adalah produk berbasis synbiotik, dimana produk ini mencakup probiotik dan prebiotik .  Mengandung nutrisi tinggi lengkap (makro dan...

Popular Posts

FOLLOW TELEGRAM