Tampilkan postingan dengan label thoyyib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label thoyyib. Tampilkan semua postingan

Mana yang Halal dan Mana yang Thayib?


Saat ini edukasi tentang makanan halal makin gencar diadakan. Media sosial pun tidak ketinggalan. Ada satu situs Harus Halal yang saat ini mempunyai 20 ribu anggota, aktif membahas kehalalan produk di tanah air. 

Beberapa narasumber lepas di media ini berlatarbelakang sebagai anggota dan auditor Lembaga Pengajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM), Majlis Ulama Indonesia. 


Konten dari LPPOM memang sangat diperlukan mengingat dari LPPOM itu sendiri adalah mengkaji dan melayani makanan, minuman dan obat-obatan – obatan termasuk kosmetika yang masuk di Indonesia, apakah telah memenuhi syarat halal atau tidak. 


Seperti yang telah dibahas di kolom Sakinah Finance pekan lalu, yaitu Makanan dan Keuangan Keluarga , pesan khusus di ujung artikel itu, ternyata halal saja tidak cukup, thayib juga perlu diperhatikan. 

Kita lihat apa itu thayib (baik) hari ini. Definisi halal dan thayib Dalam Surah Al-Baqarah (2): 168 dan Al-Maidah (5): 88 skema dua kata 'halal' dan 'thayib'. Di surah Al-Baqarah, makna ayat adalah lebih disukai bagi manusia untuk memakan apa – apa saja di muka bumi ini sepanjang halal dan thayib. Sedangkan di surah Al-Maidah, ayat tersebut melarang manusia yang beriman untuk tidak membatasi dirinya dengan kehidupan di dunia. 


Manusia tetap dianjurkan untuk menikmati kehidupan layak yang dicontohkan Rasulullah SAW (menjadi sunah) salah satunya adalah makan apa saja sepanjang halal dan thayib. Ayat-ayat yang berkenaan dengan halal yaitu thayib tersebut ditafsirkan sebagai sehat, bergizi, yang bermanfaat untuk fisik dan akal manusia (Tafsir Ibnu Katsir). 


Contoh halal dan thayib 

Dari segi makanan, makanan halal adalah semuanya kecuali yang dinyatakan dinyatakan di Al-Qur'an dan hadits. Contohnya adalah bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah (QS Al-Baqarah (2): 173; QS Al-Maidah (5): 3). Minuman keras (alkhomru) secara tegas juga dilarang (QS Al-Maidah (5): 90), dan segala makanan yang buruk (QS Al-Araf (7): 157) termasuk al-khabaaits atau sesuatu yang menjijikan, berbahaya dan haram. Begitu juga hewan yang berkuku tajam dan bertaring (HR Muslim No. 1933), serta pemakan kotoran (jalallah) (HR Abu Daud No. 3785; Tirmidzi No.1823; dan Ibnu Majah: 3189). Selanjutnya hidup dari rezeki yang thayib; di QS Al-Baqarah (2): 172 menjadi anjuran bagi orang yang beriman. 


Sedangkan contoh makanan yang thayib atau bernutrisi tinggi dan memberikan dampak kesehatan banyak penduduk di dalam Al-Qur'an seperti hewan ternak beserta susunya, ikan segar, jagung, zaitun, kurma, anggur, madu, dan tumbuh-tumbuhan lainnya, termasuk jintan hitam yang berada dalam sebuah hadits. Walaupun umat Islam diperintahkan untuk memakan rezeki yang halal dan thayib, tetap saja harus seimbang (hadits tentang cara makan Rasulullah SAW) dan tidak boleh berlebihan seperti yang tertera di dalam QS Taha (20): 81 yang artinya: “Makanlah dari rezeki yang baik - baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampau batas… 


” Panduan makanan thayib Semakin canggih teknologi, banyak makanan instan yang diproduksi seperti ayam broiler dan telurnya, susu kaleng, beras non-organik, ikan yang diawetkan, dan sayur-sayuran yang berpestisida tinggi, beras non-organik, buah-buahan yang dililin, makanan ber-MSG dan makanan instan lainnya.  Jauh beda dengan ayam kampung, ikan segar, susu segar, beras organik dan sayur - sayuran organik. 


Seorang penulis, Michael Pollan dalam bukunya Food Rules menyatakan bahwa ada 10 petunjuk yang memilih makanan sehat: 

1. Jangan makan apapun yang nenek moyang kita tidak mengakuinya sebagai makanan. 

2. Makan tumbuh – tumbuhan terutama daun – daunan. 

3. Makan makanan yang kelak akan basi. 

4. Keluar dari supermarket Cipta mungkin untuk menghindari makanan instan. 

5. Bukan makanan jika dia datangnya lewat jendela mobil. 

6. Bukan makanan jika disebut dengan nama yang sama di semua bahasa. 

7. Makanlah hewan yang memakan makanan yang baik. 

8. Makan junk-food asal buatan sendiri. 

9. Jangan sarapan pagi dengan sereal yang dapat mengubah warna susu. 

10. Jangan remehkan ikan kecil yang berprotein tinggi.  


Petunjuk dari Michael Pollan di atas sudah cukup baik yang dapat menambah pemahaman kita terhadap makanan yang halal dan thayib menurut Al-Qur'an dan Hadits. 


Murah atau mahal 


Dari panduan di atas tentu saja para keluarga sangat peka dengan harga karena soal anggaran keuangan keluarga. 

Sebenarnya tidak semua yang baik dan sehat itu mahal, misalnya memakan buah-buahan lokal seperti papaya, nenas, rambutan, mangga lebih baik dan murah dari apel yang dililin atau mangga dalam kemasan kaleng. 


Namun tidak dipungkiri, sebagian besar makanan organik dipasang dengan harga tinggi karena waktu produksinya lebih lama dan memakai energi manusia lebih banyak. Sebagai panduan keluarga, usahakan sebisanya untuk mengkonsumsi makanan halal dan thayib dengan menggunakan anggaran yang ada. 


Jika tidak mampu, jangan udah berhutang hanya ingin memastikan makanan yang dikonsumsi harus organik misalnya. Jangan lupa niat dan doa, karena hanya Allah SWT jualah yang akan memastikan konsumsi keluarga kita senantiasa halal dan thayib. Wallahu a'lam bis-shawaab.

Share:

TOYYIB, Thoyyib atau THAYYIB secara harfiah adalah BAIK

 


Arti kata TOYYIB, Thoyyib atau THAYYIB secara harfiah adalah BAIK. Kata Thayyib ini mengakar pada kata Thayyibat atau Thayyibah yang makna dasarnya baik.

» Pembahasan

Dalam konteks makanan, thayyib ini artinya adalah segala sesuatu yang oleh indra dan jiwa dirasakan lezat. Namun dalam kontek syari’, ditegaskan bahwa Thayyib artinya adalah segala sesuatu yang halal atau boleh untuk dikonsumsi sebab baik bagi tubuh, mengandung banyak kebaikan dan tidak mendatangkan mudharat atau penyakit bagi tubuh.

Dalam penggunaan sehari-hari, Thoyyib juga digunakan sebagai kata yang menunjukkan kualitas BAIK pada benda. Serta bisa pula menunjukkan persetujuan seperti pada kata ‘Ok’ atau ‘Baiklah’.

Thoyyib ini sering pula digunakan sebagai nama. Meski konotasi dalam masyarakat (khususnya Indonesia) menjadi buruk karena lagu, namun nama ini mengandung makna BAIK. Oleh sebab itu Thoyyib nama yang layak untuk diberikan pada bayi.


Share:

Follow Facebook

Bisnis Syariah & Sedekah

Featured post

Indobio itu tidak memberatkan kinerja Organ

Indobio adalah produk berbasis synbiotik, dimana produk ini mencakup probiotik dan prebiotik .  Mengandung nutrisi tinggi lengkap (makro dan...

Popular Posts

FOLLOW TELEGRAM